News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Debat Sehat dan Fair

Debat Sehat dan Fair

Debat Sehat dan Fair
(Foto/Tribun Kaltim)
Berdebat secara sehat dan fair tentang Teologi atau pun agama agaknya sulit ditemukan di Indonesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Debat yang sering kita saksikan malah menimbulkan pertengkaran atau pun perkelahian. Jika kita menyaksikan perdebatan yang dibagikan di youtube, kita akan menemukan bahwa perdebatan tidak fair.

Bukti nyata bahwa perdebatan tidak fair adalah pihak Kristen jarang sekali mengkritisi Kitab Suci agama lain. Entah karena tema debat tidak pernah berbicara soal kitab suci lain atau karena orang Kristiani enggan membahas kitab agama lain karena ‘takut’ dituduh penistaan. Seperti kita saksikan banyak orang yang dipenjara karena dituduh menista karena mengkritisi Kitab Suci agama lain. 

Perdebatan yang sering kita saksikan adalah perdebatan satu arah dengan jurus ‘ngotot’ dan memaksakan kehendak atau pendapat kepada orang lain. Berbeda dengan perdebatan yang dilaksanakan di luar negeri. Selalu fair dan ilmiah serta tidak memaksakan kehendak atau pendapat pribadi kepada orang lain.

Pernyataan selalu didasarkan pada data yang ada dan juga tidak berisi serangan terhadap pribadi lawan debat. Sebaiknya, perdebatan selalu terarah dan sampai pada kesimpulan untuk ‘setuju untuk tidak setuju’. Berbeda dengan debat agama di Indonesia yang akhir-akhir ini viral yakni debat antara pendeta Muriwali dan Ustadz Mashud. Topik yang diangkat selalu tentang Alkitab. Pertanyaannya, apakah mereka berani jika topik yang dipakai mengangkat tentang Kitab Suci mereka?. Pertanyaan ini patut mereka jawab.

Debat Sehat dan Fair seharusnya menjadi bagian dari perdebatan seorang akademisi. Perdebatan akademisi seharusnya mendidik dan memberi pencerahan yang membuat orang semakin yakin dan teguh memegang ajaran yang dianut. Perdebatan akademisi tidak berisi cacian, hinaan dan juga makian. Perdebatan akademisi tidak berisi sikap ‘ngotot’ melainkan berisi edukasi kepada setiap orang yang mendengarkannya.

Pertanyaannya: Kapan perdebatan agama di Indonesia memberikan edukasi dan bukan ambisi untuk menjatuhkan lawan?. Adakah yang mampu berdebat seperti perdebatan yang dilakukan oleh orang luar negeri. Memberikan edukasi tanpa memaksa kehendak, tanpa memaksa pendapat, tanpa menjatuhkan lawan debat. Jika perdebatan sehat dan fair tentu tidak ada permusuhan dan juga tidak ada konflik yang timbul. Oleh sebab itu, sikap debat ilmiah di Indonesia harus ditingkatkan agar memberikan edukasi kepada orang lain.  

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Next
Posting Lebih Baru
Previous
This is the last post.

Posting Komentar