News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Menteri Semua Agama, Jauh Panggang Dari Api

Menteri Semua Agama, Jauh Panggang Dari Api


Menteri Semua Agama, Jauh Panggang Dari Api
(Ilustrasi)

Oleh: Silvester Detianus Gea

Menteri semua agama . Ini adalah perkataan yang tidak tepat, karena reaksinya terhadap kasus gugatan terhadap Izin Mendirikan Bangunan (IMB) gereja Santo Joseph-Tanjung Balai, Karimun-Riau. Reaksi Menteri semua agama hanya berisi pesan ‘kosong’ dan tidak ada tindakan langsung untuk menyelesaikan kasus tersebut. Patut disayangkan reaksi menteri yang pada awalnya penuh kejutan. Bahkan banyak masyarakat yang sangat antusias mendengar ucapannya ketika beliau berkata bahwa ‘Dia menteri semua agama’. Apalah daya jauh panggang dari api, ucapan beliau tidak lebih dari tindakan menabur angin. Ucapan yang sama sekali tidak berfaedah, karena bukti nyatanya tidak ada. 

Menteri semua agama sama sekali tidak memberi solusi terhadap kasus gereja di Karimun. Berbeda dengan kasus Mushala yang konon berada di balai pertemuan. Secara logika wajarlah ditolak karena keberadaan Mushala itu berada dalam balai pertemuan. Tetapi konon Menteri semua agama langsung turun tangan agar IMB Mushala segera tuntas/keluar. Ternyata tidak benar bahwa beliau yang terhormat ini tidak benar menteri semua agama. Beliau lebih tepatnya Menteri sekelompok agama. Tindakan beliau yang terhormat ini berbanding terbalik ketika menanggapi gugatan IMB gereja St. Joseph-Karimun. 

Beliau hanya berkata-kata dengan indah, bak seorang sedang merangkai puisi. Nyatanya, tidak ada hasilnya, tidak ada tindakan nyata untuk menyelesaikan kasus itu. Nyatalah bagi kita bahwa ucapan-ucapan dan pepesan kosong mereka hanyalah manis dibibir. Tidak ada bukti nyata yang menunjukkan bahwa mereka berpihak kepada semua agama yang ada di Indonesia. Bahkan kasus gereja di Karimun sampai di pengadilan, juga tidak ada tanggapan dari yang terhormat Menteri sekelompok agama.

Maka, lebih tepat jika di Indonesia ini ada menteri dari setiap agama, agar hak setiap warga negara yang menganut berbagai agama dapat terpenuhi. Jika tidak maka negara ini tidak lebih dari negara sekelompok agama saja. Jauh dari apa yang diharapkan oleh pendiri bangsa. Bahkan, Undangan-Undang Dasar 1945 Pasal 29 ayat 1 dan 2 tidak lebih dari pajangan tuan-tuan terhormat yang berkata-kata manis dibibir saja, demi menghimpun masa untuk mengumpulkan pundi-pundi dari kekayaan bangsa tercinta ini. 

Ucapan menteri semua agama itu BULSHIT, pepesan kosong yang layak diabaikan. Keputusan pejabat dari yang terendah hingga yang tertinggi ditentukan oleh organisasi masyarakat (ormas) yang mengatasnamakan agama, tertbukti dengan kasus gereja St. Joseph-Karimun. Keputusan Pemkab dapat diintervensi oleh ormas yang membuat alasan konyol untuk menolak keberadaan Gereja St. Joseph-Karimun yang telah berdiri sejak tahun 1928 bahkan sebelum bangsa ini merdeka. Alasan yang disampaikan ormas sangat tidak masuk akal dan tidak ada yang protes sejak tahun 1928, itu artinya tidak ada warga yang terganggu, termasuk dalam hal lalu lintas yang dijadikan alasan oleh ormas terkait. 

Inilah bangsa yang sudah berada diambang kehancuran. Kehancuran karena pemimpinnya tidak lagi menjalankan fungsi sebagai alat negara, tetapi lebih condong menjalankan fungsi sebagai alat dari ormas anti kebhinnekaan dan anti UUD 1945. Seandainya, para pendiri bangsa masih hidup, sungguh merekalah yang pertama menolak pemimpin-pemimpin semacam itu.

Merekalah yang duluan memerangi pemimpin semacam itu. Entah dengan ormas anti Pancasila mana saya samakan pemimpin semacam itu?. Sudahlah berhenti berkata-kata manis di depan kamera dengan berkata ‘Saya menteri semua agama’. Karena ucapan itu tidak terbukti sama sekali. Layaklah ucapan itu ditertawakan oleh sebagian besar masyarakata Indonesia.**



Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar