News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Hukum Secara Adat Pembuat Tulisan 'Suku Ndawa'

Hukum Secara Adat Pembuat Tulisan 'Suku Ndawa'

Hukum Secara Adat Pembuat Tulisan 'Suku Ndawa'
(Foto/Surat Isu Adanya Suku Ndrawa)

Oleh: Silvester Detianus Gea*



Belum lama ini isu adanya suku baru yang menamakan diri 'suku ndawa' sempat menghebohkan masyarakat Nias. Masyarakat Nias yang selama ini hanya mengenal satu-satunya suku asli Nias adalah Suku Nias. Bila ada suku lain maka itu suku pendatang sepeti Jawa, Batak, Minang, Aceh dan lain sebagainya. Maka, surat yang berisi tulisan 'suku ndawa' membuat masyarakat Nias geram dan marah. Alasannya cukup jelas karena 'suku ndawa' seolah-olah mendirikan suku baru dalam masyarakat Nias, padahal jika di lihat mereka sebenarnya adalah pendatang. Hal itu dibuktikan dengan marga yang mereka miliki. 

Setelah beberapa hari beredar di media sosial, maka kasus ini ditangani oleh Polres Nias, sehingga diadakan pertemuan di Pendopo Kabupaten Nias Utara. Hasil dari pertemuan itu dinyatakan bahwa tulisan 'suku ndawa' sebuah kesalah pahaman. Namun, dalam hal ini belum jelas kesalah pahaman apa yang dimaksud. Justru yang perlu ditanyakan adalah tujuan dari tulisan 'suku ndawa' itu sendiri. Perlu diselidiki apa tujuan dari pembuat surat menulis 'suku ndawa'. Sungguh naif kalau alasan mereka bahwa mereka terbatas dalam berbahasa. 

Meskipun telah diselesaikan secara kekeluargaan, namun perlu dipahami bahwa gerakan serupa ini kemungkinan bisa muncul dikemudian hari. Alasannya, karena sama sekali tidak ada efek jera bagi pembuat surat maupun kelompok mereka. Bahkan dikemudian hari bisa saja muncul dalam skala besar, karena kita membiarkan 'harimau' menguasai rumah kita, atau dapat diartikan dalam peribahasa sebagai 'api dalam sekam'. 

Kasus ini sesungguhnya adalah peringatan bagi masyarakat Nias, agar tanggap dan jeli melihat kelompok-kelompok pengacau yang menyebarkan virus-virus kebencian atas nama agama. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan, jangan sampai dikemudian hari kepala kitalah yang diinjak-injak di tanah leluhur kita. Pemerintah setempat baik di Nias Utara, Kota Gunungsitoli, Nias Selatan, Nias Barat perlu mengawasi gerak-gerik 'pendatang' yang 'belagu' atau 'tidak tahu diri' dan tidak tahu diri yang mulai mengatur masyarakat soal tanah adat dan lain sebagainya. Imane ba gamaedola: "Ha lumö zulu ba mbaewa, ha lumö ho’ae ba zolaya".


*Penulis adalah Wartawan FloresNews.net, ZIARAHNEWS.COM, dan  KOMODOPOS.COM, Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017), Menulis buku berjudul "MENGENAL BUDAYA DAN KEARIFAN LOKAL SUKU NIAS" (2018). Kontributor website Media Dialogika Indonesia (Madilog.id), kontributor website Societasnews.id, Author JalaPress.com, dan mengajar di salah satu sekolah (2019-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea. Akun Kompasiana: https://www.kompasiana.com/silvesterdetianusgea8289.

Salam
Ya'ahowu

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar