News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

2020 SEDANG BERCANDA

2020 SEDANG BERCANDA

(Ilustrasi/Pixabay)

Oleh Gertruda Yalinia Hia

Sepertinya cerita 2020 diwarnai sejuta peristiwa dan fenomena diluar dugaan manusia yang seharusnya tahun 2020 menjadi momen dimana pembangunan dan bangkitnya segala teknologi diberbagai bidang, tetapi waktu punya ceritanya sendiri. Tahun 2020 menjadi ajang munculnya berbagai fenomena yang membuat kehidupan manusia berubah sekejap mata. 

Hahaha gimana ga berubah mulai dari perang, banjir, kebakaran, dan terakhir moment menyebalkan munculnya penyakit yang membuat heboh sejagat raya “Corona Virus”. Secara tak langsung fenomena ini mempengaruhi kelangsungan hidup dan interaksi manusia. Sajian fenomena ini menjadi bumbu hangat bagi manusia. 

Beberapa Negara melakukan berbagai kebijakan dalam menangani kasus Covid ini, mulai dari lockdown, bekerja di rumah, belajar secara virtual, jaga jarak, interaksi social mulai dibatasi dan masih banyak kebijakan yang sudah diberlakukan oleh setiap Negara. Pokonya hamper segala mobilitas manusia dilakukan secara online dengan menggunakan teknologi.  Hal ini bertujuan tentu saja untuk mengatasi dan memutuskan rantai penyebaran Covid-19.

Kebijakan-kebijakan ini membawa dampak yang sangat berpengaruh bagi setiap individu, mulai dari fisik dan psikis. Sebagian besar manusia harus beradaptasi extra menghadapi situasi ini, ada yang bisa beradaptasi langsung dengan kebijakan ini dan ada juga sebagian individu yang masih kaget meraba-raba dengan kebijakan yang dianggap sangat merebut haknya untuk menikmati dunia dan alam. Semua dimensi kehidupan manusi berubah total, dari sisi ekonomi, pangan, pendidikan, kesehatan, lingkungan, budaya, keamanan, dan lainnya.

Berbagai media, artikel koran, berita televisi, jurnal dengan konotasi tanpa sensor yang selalu hiperbola dengan fenomena Corona Virus membuat masyarakat semakin Anxiety, paranoid dengan pemberitaan Corona Virus yang jelas-jelas dihebohkan tanpa disaring. Masyarakat yang minim akan edukasi, pengetahuan semakin terpuruk membawa dampak stress merasakan dan menyaksikan kondisi Corona Virus ini melalui pemberitaan tersebut. Silakan saja diberitakan, tapi di lain sisi media seharusnya mengontrol cara memberitakan Corona Virus yang jelas-jelas memperburuk keadaan dan yang diberitakan juga belum tentu real di lapangan. 

Fenomena Covid memang meresahkan. Yang paling kentara di sini adalah batasan interaksi dengan orang lain dan mobilitas yang diketatkan. Selama pandemic masyarakat dunia melakukan segala hal di rumah mulai belajar daring yang sangat membosankan, yang kaku dan berinteraksi dengan orang di rumah yang itu-itu saja, ketika mau pergi untuk kebutuhan di luar harus mikir dua kali. Menyakitkan kan?

Para ilmuwan berpendapat bahwa Corona Virus adalah penyakit yang berasal dari hewan yang kemudian berpindah ke manusia dan memicu wabah yang luar biasa yang merenggut nyawa banyak orang.

Menurut WHO yang dikutip dari CNBC Indonesia, Corona Virus adalah salah satu jenis penyakit pada hewan atau manusia. Pada manusia Corona diketahui menyebabkan infeksi pernapasan mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih parah seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS), dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus ini termasuk penyakit yang menular dan baru, yang teridentifikasi yang berasal dari kota Wuhan, China pada Desember 2019 yang lalu yang kemudian menjadi wabah yang luar biasa menerjang dunia. 

Gejala penyakit ini yang paling umum dirasakan  adalah demam, kelelahan, dan batuk kering. Beberapa pasien mungkin mengalami sakit dan nyeri, hidung tersumbet, pilek, sakit tenggorokan ataupun diare. Gejala-gejala ini bersifat ringan dan terjadi secara bertahap. Namun, beberapa orang yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala apapun dan tak merasa badan tidak enak. 

Tidak bisa menyalahkan siapapun, tetapi keadaannya seperti ini. Corona virus tidak mesti dianggap sebagai ancaman yang totalitas tetapi di lain sisi Corona Virus membawa dampak yang sangat bermanfaat bagi manusia itu sendiri. Corona Virus menuntut manusia untuk peduli dengan alam, lingkungan, manusia, kehidupan sosial, dan lebih utamanya adalah diri sendiri. Jangan salah selain Corona Virus membantu manusia untuk peduli, Corona Virus menuntut manusia beradaptasi dengan teknologi canggih saat ini yang semakin fleksibel, dinamis dan tentunya instan bagi siapa saja usernya.

Salah satu yang paling terasa adalah peduli dengan kesehatan sendiri, dulu sebelum Corona menyerang jagat raya, mobilitas dan pergerakan manusia tak terbatas, roda pergerakan manusia mau entah kemana tanpa peduli dengan kesehatan. Sah-sah saja. 

Sepertinya penyesuain diri dengan Corona Virus sudah masuk ke dalam diri sebagian besar masyarakat dunia bahkan sudah menjadi habit manusia, kemana-mana wajib memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak, membatasi diri dengan lingkup yang ramai dan menahan diri untuk tidak pergi keluar daerah, luar kota apalagi keluar negeri (hehehe). Siapa yang tidak rindu suasana alam, suasana keramaian, suasana bersama kerabat, suasana liburan, suasana ibadah, suasana undangan pernikahan. Semua rindu, semua kangen momen-momen itu, tapi tolong kesehatan lebih penting dari pada suasana-suasana di atas. Jadi momen itu diskip dulu biar ada jeda merenungkan manfaat adanya Corona Virus ini. 

Pemikiran-pemikiran minim yang beranggapan bahwa Corona Virus adalah Konspirasi. Hallo tolong mindset itu disingkirkan dulu. Ini bukan masalah konspirasi atau Azab atau apalah namanya, tetapi ulah manusia yang tidak pernah puas akan kebutuhan. Manusia yang bersifat konsumerisme, manusia ingin memiliki ini-itu tanpa permisi dengan alam dan Tuhan, manusia dengan serakah tanpa mengontrol egosentrisnya menguasai-ini itu, akhirnya ini penyebabnya, muncullah penyakit-penyakit yang tidak bersahabat dan membawa kematian bagi manusia itu sendiri. Menyenangkan sekali bersahabat dengan penyakit (majas Ironi berkata).

Terlepas dari penjelasan di atas, lambat laun Corona Virus  semakin hari semakin lama mulai bergeser terkikis di telinga masyarakat umum, walaupun sudah diberlakukan segala kebijakan, masyarakat sepertinya mulai tahan banting dengan situasi ini dikarenakan kebutuhan yang mendesak untuk bertahan hidup. Banyak masyarakat dunia mengalami pemberhentian pekerjaan dikarenakan situasi pandemi. Oleh sebab itu, mau tidak mau masyarakat dunia ikut membanting tulang dan memaksakan diri bekerja walaupun dalam situasi pandemic dengan mengikuti protocol kesehatan. Pemerintah sudah berusaha keras memberikan bantuan social yang berdampak pandemic, walaupun pada kenyataannya bantuan itu tidak sesuai apa yang diharapkan masyarakat dan pemerintah, lagi-lagi korupsi menerpa. 

Di situasi yang memprihatinkan, korupsi masih bisa lolos dengan mudahnya di dalam tubuh pemerintah dan pelakunya adalah pemerintah sendiri. Korupsi sudah mendarah daging di Indonesia sampai kapanpun korupsi tidak akan bisa dibasmi. Di lain sisi pandemic sepertinya tahun 2020 sedang bercanda menyindir manusia. Lawakannya sungguh mengubah persepsi pemikiran manusia dari berbagai sudut. Harapan masyarakat dunia semoga wabah ini bisa teratasi dan kehidupan masyarakat dunia kembali pulih.

*Penulis adalah mahasiswi semester VI-Universitas Bhayangkara-Jakarta


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar