News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Isu SARA yang Berwarna

Isu SARA yang Berwarna

(Foto/Google)


Oleh Gertruda Yalinia Hia

Sara (Suku, Agama, Ras dan Antargolongan) salah satu isu yang paling panas pada era dewasa ini. Semua isu-isu ini dari dulu sudah ada, mulai dari Amerika dan sepertinya semua Negara-negara di dunia mempunyai masalah yang berkaitan dengan isu SARA, mulai dari genosida, peperangan, pengeboman, pembunuhan, pembantaian, memboikot, kudeta dalam politik yang sangat berbahaya merenggut ribuan bahkan jutaan nyawa manusia yang merusak integrasi bangsa.

Kita tidak perlu jauh-jauh, berbicara isu SARA di Indonesia memang dari dulu tertanam dalam diri manusia,  sebagian kecil dari masyarakat Indonesia, entah apa tujuan golongan atau kelompok tertentu menanamkan kebencian tersebut sehingga merusak kemajemukan di Indonesia dengan dalil kepentingan tertentu. Beberapa tahun yang lalu dan sampai sekarang isu ini masih kentara di telinga masyarakat luas bahkan masyarakat merasakan, mengalami, melihat kebencian ini. 

SARA sendiri adalah cara pandang, cara berpikir ataupun tindakan sentimental mengenai identitas diri yang menyangkut garis keturunan, agama ynag dianut, kebangsaan (Konstitusional), atau kesukuan dan golongan. Pada umumnya SARA digolongkan sebagai segala sesuatu bentuk tindakan yang berbentuk verbal maupun non-verbal yang didasarkan pada pandangan rasis atau garis keras kepada suatu golongan atau suku tertentu. Pada umumnya SARA identic dengan kekerasan, radikalisme dan intoleran. Hati-hati isu SARA di Indonesia sangat sensitive. 

Indonesia adalah salah satu negera majemuk yang kaya akan perbedaan satu sama lain mulai dari Agama, Budaya, Bahasa, Suku bangsa, Adat istiadat, dan Ras yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Kemajemukan ini banyak menimbulkan konflik sosial yang merusak identitas bangsa dan merusak multicultural yang indah menjadi bangsa yang penuh rupa kebencian. 

Salah satu penyebab SARA yaitu bisa jadi dari lemahnya system dan perhatian dari tubuh pemerintah, selanjutnya edukasi yang masih minim belum dikonsumsi sepenuhnya literasi yang baik dari masyarakat, pemahaman yang sangat rendah akan para penganut paham tertentu, kurangnya pemahaman yang mendalam tentang kebebasan dalam keberagaman (agama, ibadah, suku, budaya, ras, adat istiadat), penanaman moral akan keberagaman kepada generasi bangsa belum diterapkan secara efektif, serta media sosial yang dikonsumsi secara mentah-mentah tanpa difilter juga mempengaruhi terjadinya SARA ini.  Hal ini tentu saja mempengaruhi persepsi masyarakat dari informasi itu. SARA paling memanas menjelang Pemilu biasanya. SARA dijadikan umpan untuk menyebarkan politisasi yang kurang efektif, hoax dan fitnah tentu saja digoreng menjadi bumbu untuk memenangkan suara terbanyak dari masyarakat demi meraih kekuasaan. 

Isu-isu SARA yang pernah terjadi di Indonesia mulai dari konflik Antar Suku di Sampit (2001), konflik Agama di Ambon (1999), konflik antar etnis (1998), konflik golongan agama (2000), konflik antar golongan dan pemerintah (OPM di Papua).

Konflik-konflik di atas, konflik SARA akan membawa dampak tidak hanya untuk individu tetapi kelompok, konflik SARA sangat mengerikan, menyakitkan, menyedihkan, membawa trauma berat, harta benda hancur, ribuan bahkan jutaan jiwa telah meninggal bahkan jiwa yang masih hiduppun dihantui akan kematian. Hanya demi kekuasaan dan egosentris yang tinggi dan anggapan “PAHAMKU YANG PALING BENAR, DI LUAR ITU TIDAK ADA KEBENARAN”. Cover ini memakan banyak korban jiwa yang tidak bermasalah.

Akibat dari terjadinya konflik ini mulai dari ketegangan di antara individu atau kelompok yang berkonflik, integrasi bangsa menjadi rusak, hilangnya rasa aman dalam kehidupan bermasyarakat karena trauma yang luar biasa, hilangnya korban jiwa, mudah diadu domba, kehancuran sebuah bangsa dan masih banyak lagi. 

Mulai dari sekarang terutama generasi Z dengan zaman teknologi yang super duper canggih, kita harus open minded terhadap perbedaan. Kita saling membutuhkan satu sama lain, aku ada  karena engkau ada. Perbedaan itu memang tantangan, tetapi dengan menanamkan sikap dan moral menghargai perbedaan dalam kehidupan sosial sedini mungkin, perbedaan itu akan berwarna seperti pelangi yang sangat indah dipandang. 


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar