News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Psikologi Rasa Nano-Nano

Psikologi Rasa Nano-Nano

(Foto/Pixabay.com).


Oleh Gertruda Yalinia Hia


Ada yang tahu mahasiswa Psikologi itu seperti apa dan mereka mempelajari apa saja? Hemmm, Sepertinya sebagian awam tidak mengenal Psikologi itu apa, bisa jadi dikarenakan minimnya edukasi, apalagi masyarakat Indonesia minim sekali akan literasi. Sebagai tambahan Indonesia urutan ke-60 akan rendahnya minat baca, rangking yang perlu diperbaiki, padahal di media sosial Indonesia menempati posisi ke 5 sebagai Negara yang paling cerewet, semua isu-isu ditelan mentah-mentah tanpa difilter, akhirnya Indonesia menjadi peringkat pertama sebagai Negara yang rendah akan nilai sopan santunnya di media sosial. Keren kan Indonesia.

Kembali ke Psikologi. Jadi begini Psikologi itu merupakan salah satu ilmu yang mempelajari tentang manusia mulai dari proses-proses mentalnya yang abstrak, perilaku yang tampak dan kasat mata, gangguan-gangguan kepribadian yang dialami oleh individu, cara menanganinya seperti apa dan masih banyak lagi. Intinya Psikologi itu kompleks tentang manusia dan dimensi-dimensi yang terkait di dalamnya.

Well, menjadi mahasiswa Psikologi bukan hal yang mudah, rasanya kayak permen nano-nano, beda rasanya (hahaha). Menjadi mahasiswa Psikologi siap-siap seperti pasien yang berobat jalan, ada beberapa matakuliah yang membahas tentang perilaku manusia yang dipengaruhi oleh kejadian masa lalu, tekanan batin, trauma dan masih banyak lagi, bayangin manusia flasback dengan kejadian dan pengalaman itu yang sudah terjadi di beberapa tahun lalu, pada masa semenjak masih balita bahkan dalam kandunganpun dikorek-korek dan dikupas ulang, wih itu benar-benar sakit lo apabila individu tertentu merasakan dan menyadari hal tersebut, padahal pengalamana itu sudah pekat di alam bawah sadar dan mempengaruhi setiap sikap dan perilaku manusia ketika berinteraksi sosial sekarang, masa kini dan masa depan.

Dari pertama masuk kuliah dan ketika ditanya jurusan apa, siap-siap dengan berbagai pertanyaan interogasi plus dicampur dengan kalimat-kalimat horor seperti ini mulai dari “wah anak Psikologi ini, tolong bacain garis tangan dong, widih hati-hati lo ya dengan anak Psikologi bisa meramal, ingat selalu beri jarak ke anak Psikologi, mereka bisa membaca kepribadian seseorang, bantuain aku dong aku mau curhat, anak Psikologi kan rapi-rapi, Psikologi kan bisa memahami orang, takut sama anak Psikologi jago dalam interview ketika melamar kerja, Psikologi mah gampang tidak ada statistic (matamu, hahaha)”. Mahasiswa Psikologi itu manusia bukan dewa bla…bla..bla… dan seterusnya. Label ini harus diluruskan. 

Herannya menjadi anak Psikologi juga kadang membingungkan diri sendiri, ini mesti jawab apa. Pertanyaan-pertanyaan dan asumsi-asumsi di atas kerap kali dialami dan dilontarkan kepada mahasiswa Psikologi, padahal kenyataannya tidak seperti itu. Malah banyak mahasiswa Psikologi yang rawat jalan ketika membahas materi-materi dalam Psikologi. Secara horizontal dan vertical, mahasiswa psikologi ketika berurusan dengan manusia tentunya mempunyai kaidah-kaidah, kode etiknya serta Undang-undangnya, tidak bisa sekejap mata bisa ini-itu. Tidak!

Fakta yang lain di jurusan Psikologi jangan heran kalau mahasiswanya lebih dominan perempuan dibanding laki-laki, enam banding empat (6:4) (hahaha). Banyak berpendapat bahwa keadaan ini dikarenakan Psikologi membahas manusia, misalnya saja memahami perasaan. Perempuan dikenal dengan lemah lembutannya akan perasaan seseorang, jadi ini faktor pendukungnya perempuan dominan ke jurusan Psikologi. Ada juga didukung oleh konstruksi sosial yang sangat kental di masyarakat Indonesia, bahwa wanita itu urusannya soal perasaan, laki-laki tidak bisa memahami soal perasaan, tidak mengerti. Itu persepsi yang keliru, beda di luar negeri banyak mahasiswa laki-laki yang menjadi Psikolog, jadi jangan heran induk berkembang Psikologi itu pusatnya luar negeri, salah satu tokoh yang sangat terkenal di Psikologi adalah Sigmund Freud dari Jerman. 

Sama halnya, jurusan Psikologi belajar banyak tentang hal. Urusan perhitungan tentu saja terdapat di matakuliah Psikologi. Tidak gampang menjadi mahasiswa Psikologi, banyak tantangannya, beban tugasnya, ujian tiap semester selalu menanti apalagi skripsi sudah dipintu gerbang menunggu. Semua matakuliah baik Psikologi maupun matakuliah lainnya mempunyai tantangannya sendiri dan tentunya goalsnya sama menjadi Sarjana yang mempunyai nilai jual diri di masyarakat.

Jurusan Psikologi bidangnya juga tidak jauh-jauh dari Kedokteran, Kejiwaan, Sosial, Kriminal dan Filsafat induk dari segala jurusan. Salah satu dosen Universitas Bhayangkara Jakarta Raya pernah mengatakan “Dimana ada fenomena, kejadian, di situ ada peran Psikologi” dan benar saja Psikologi sangat dibutuhkan karena erat kaitannya dengan manusia.

Kesimpulannya Psikologi adalah studi tentang manusia, apapun tentang manusia, Psikologi ada. Terlepas dari semua topik Psikologi, rasanya semua matakuliah yang ada di jenjang perguruan tinggi memiliki fungsi dan tujuan yang sama adalah mempelajari segala sesuatu fenomena yang terjadi di sekitar kita (manusia) yang diukur secara sains, di samping spritualitas (Agama).

Sekali lagi mahasiswa Psikologi bukan Pseudoscience. 


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar