News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Ayahku Jagoanku

Ayahku Jagoanku

 

(Foto/Satieli Gea (Alm))

Oleh: Silvester Detianus Gea*

Satieli Gea (alm) adalah nama ayahku. Bagiku ayah adalah pahlawan. Pahlawan yang tak kenal lelah. Tak pernah mengeluh. Pahlawan yang dalam medan perjuangan selalu tersenyum. Semangatnya selalu berkobar. Meskipun raga letih, ayah tak pernah mengeluh. 

Saban waktu ayah selalu memberi perhatian yang besar padaku. Alunan kata indah yang keluar dari tuturnya, menjadi nada yang tertanam dalam jiwaku. Tak mungkin kudengar lagi kata indah itu. Sebab ia telah menjadi kenangan abadi. 

Dalam amarah pun ayah mengajarkanku, supaya mengingat hal-hal rohani. Aku masih ingat ketika ayah menyuruhku bernyanyi lagu “Hepi yayaya” sebagai hukuman karena aku berkelahi dengan abang. Tak terbendung petuah dan wejangan keluar dari mulut ayah. Mampu menembus ruang dan waktu, selesa dan niskala. 

Ayah selalu menunjukkan kasih dalam mendidik kami seperti ajaran Kitab Suci: “Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati (Amsal 23:13-14).” 

Ayah seorang yang rajin dan kreatif

Ayah adalah seorang yang rajin dan pekerja keras. Pagi-pagi buta, sebelum ayam berkokok, ayah berangkat mendaras karet. Bagi ayah, tidak butuh waktu lama untuk mendaras karet berhektar-hektar. Ayah dapat menyelesaikannya seorang diri dalam waktu singkat. Dan luar biasa, ayah tidak pernah merasa lelah atau tidak ada ucapan mengeluh keluar dari mulut ayah. 

Selain seorang yang rajin dan pekerja keras, ayah juga seorang yang kreatif. Ayah mampu menghasilkan karya-karya seperti seruling, gitar, bubu, pukat ikan, perangkap babi huta, rusa, landak, burung, dan lain sebagainya. Yang aku masih ingat, ketika ayah membuat gitar. Gitar yang indah dari akar pohon. Kualitas gitar buatan ayah tidak kalah dengan buatan pabrik. Melodi dan nada yang dihasilkan membelah kesunyian kampung kala itu. Tidak hanya mampu membuat, ayah juga pandai memainkannya.

Ayah seorang yang supel dan ditokohkan

Ayah adalah seorang yang supel. Karena ayah seorang yang supel maka ia mudah mendapat kepercayaan dalam bidang keagamaan dan sosial. Dalam bidang keagamaan, ayah mendapat kepercayaan sebagai Satua Niha Keriso (mungkin sejajar dengan ketua lingkungan) dan guru Sekolah Minggu (SM), selama beberapa periode. 

Sementara itu, dalam hal adat, ayah dipandang sebagai tokoh pengganti dari kakek. Oleh sebab itu, ayah banyak menguasai peribahasa atau pepatah (bahasa Nias: Amaedola) dan kata-kata atau ucapan-ucapan dalam suatu pertemuan adat (huhuo Hada). 

Sebagai pengganti kakek, ayah meneruskan kepemimpinan kakek dalam bidang adat. Salah satu yang diteruskan oleh ayah yakni menjadi Tuhenöri. Tuhenöri adalah orang yang melaksanakan pesta besar dan mengumumkan kepada khalayak bahwa dirinya pemimpin suatu kampung adat (öri). Ayah pada waktu itu mengadakan pesta dengan memotong beberapa ekor babi. Ayah mengundang orang-orang kampung untuk mengumumkan dan meresmikan. Saat itu ayah meresmikan nama kampung adat (öri) kami yaitu Tumöri. 

Ayah meninggal dunia di sampingku

Ayah mengalami penyakit aneh. Ayah selalu muntah ketika makan dan minum. Penyakit tersebut mengganggu pekerjaan dan karya ayah. Akhirnya, mama membawa ayah ke rumah sakit umum di Kota Gunungsitoli. Namun penyakit ayah tidak dapat didektesi secara medis. 

Setelah ayah berjuang melawan penyakit tersebut, selama tiga tahun. Maka, pada bulan Mei tahun 2000, ayah menghembuskan nafas terakhir di sampingku. Saat itu, aku sedang menjaga ayah dan duduk di samping ranjang, karena mama sedang memasak di dapur. 

Ayah yang berada dalam sakratul maut, berbisik padaku “nak panggil mamamu”. Aku segera memanggil mama. Dan sebelum mama sampai, ayah telah menghembuskan nafas terakhir. Kini, ayah telah tertidur lelap dalam keabadian selama dua puluh tahun. 


*SILVESTER DETIANUS GEA, Aktif sebagai wartawan (2017-sekarang) dan mengajar di SD Tarsisius Vireta, Tangerang (2019-sekarang).  Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017). Menulis buku berjudul “Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias” (2018). Ikut serta menulis puisi dalam buku bunga rampai “Ibuku Surgaku” jilid III (2020), "Ayahku Jagoanku (2021), dan "Anakku Permataku (2021)

Sumber: Buku Ayahku Jagoanku-Kumpulan Tulisan Inspiratif Tentang Ayah dan Kita (Buku Empat). 2021. Jakarta: Penerbit Kosa Kata Kita. hlm. 1-4.


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar