News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Malaikat yang Dikirim Tuhan-Ibuku Surgaku

Malaikat yang Dikirim Tuhan-Ibuku Surgaku

 

(Buku Ibuku Surgaku)


Malaikat yang Dikirim Tuhan

*Oleh: Silvester Detianus Gea


Ibu, entah dengan apa 

Aku membalas kasih sayangmu

Segenggam emas atau pun berlian 

Tak dapat membalas kasih sayangmu

Selama sembilan bulan lebih

Engkau membawaku

kemana saja engkau pergi

Setelah tiba waktunya aku pun dilahirkan

Engkau membedongku dengan penuh kasih sayang


Engkau tak kenal lelah 

Sejak kecil engkau merawatku dengan penuh kasih

Ketika lapar, engkau menyusuiku

Setelah mandi, engkau membaringkanku

Disebuah ayunan buatan bapak


Engkau tak membiarkanku menangis

Meskipun larut malam

Engkau bangun menenangkanku

Rasa ngantuk yang melanda 

Seolah hilang menatap wajahku

Anakmu yang sering tidak tahu terima kasih


Ibu, entah bagaimana 

Aku membalas pengorbananmu

Seluruh pemberianku

Tak dapat mengganti tetesan keringatmu

yang berderai membasahi bumi

Tak mungkin menghapus jejak indah

yang terpatri melukis sejarah


Kala pagi tiba, sebelum ayam berkokok

Engkau bergegas menapaki jalan bersama embun pagi 

Merajut harapan dengan sepenuh hati

Engkau melangkah menuju ladang

Menanam singkong, cabai, dan sayur-sayuran 

Makanan pokok kala padi kena hama


Tak terkira rasa lelahmu

Engkau pulang ke rumah

Ketika mentari telah terbenam

Dan rembunan mulai menunjukkan dirinya

Dengan langkah yang tertatih

Engkau menapaki jalan menuju rumah

Menatap wajahku, anakmu

Lelah itu sirna


Oh ibu, nada terindah

Tak dapat melukiskan

Betapa sucinya kasih sayangmu

Bahkan pelangi tak dapat melukiskan

Betapa indah warna sejarah 

Yang engkau goreskan dihidupku

Setiap nasehat yang keluar dari mulutmu

Kala daku mulai nakal adalah mutiara berharga

Bagai sabda pertiwi yang menyegarkan jiwa

Meneguhkan dan mengokohkan budi

Tiada yang seperti engkau


Engkau malaikat yang dikirim Tuhan

Malaikat yang berhati murni

Dengan tutur yang lembut dan hangat

Ibu, engkaulah penyejuk jiwa

Pemberi harapan dikala asa mulai pudar

Teman setia sepanjang hidup

Kasih sayangmu tetap, tak pernah luntur


Puisi ini tak dapat menggambarkan

Betapa besar kasih dan pengorbananmu

Ibu, Puisi ini hanyalah luapan kepenatan hati

Anakmu ditanah rantau 

Aku merindukan nasehat dan belaian ibu

Dikala malam tiba

Dalam doaku nama ibu terucap

Pintaku pada-Nya, 

“Tuhan aku merindukan ibu, jaga dan berilah kesehatan padanya”.


*SILVESTER DETIANUS GEA, Aktif sebagai wartawan (2017-sekarang) dan mengajar di SD Tarsisius Vireta, Tangerang (2019-sekarang).  Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “Mengenal Tokoh Katolik Indonesia: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (2017). Menulis buku berjudul “Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias” (2018). Ikut serta menulis puisi dalam buku bunga rampai “Ibuku Surgaku” jilid III (2020), "Ayahku Jagoanku (2021), dan "Anakku Permataku (2021)


Sumber: Ibuku Surgaku-Kumpulan Tulisan Inspiratif Tentang Ibu dalam Rangka Hari Ibu, 22 Desember 2020 (Buku Tiga). 2020. Jakarta: Penerbit Kosa Kata Kita. hlm. 87-90


Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.

Posting Komentar